All posts by crownmoon

About crownmoon

Live in the middle of the fanchants.

31 Oktober 2017

Mengelilingi kota rantau kami sepertinya menjadi aktivitas yang digemari. Akupun merasa senang ditemani olehnya, karena aku merasa tak ada yang harus kututup-tutupi. Kami pergi ke sebuah kafe sambil berniat untuk mengulang kembali materi kuliah yang akan diujikan sebentar lagi. Walaupun sebenarnya hasilnya nihil. Aku tak bisa belajar bersama karena terlalu ramai dan berisik bagiku. Jadi kami hanya mengobrol dan bercanda saja sampai makanan ringan kami habis.

Kali ini kami akan makan malam. Karena bosan dengan tempat yang itu-itu saja kami berpindah dari tempat sebelumnya juga ia mengatakan ingin menceritakan sesuatu padaku. Jadi aku hanya menunggu waktu saja hingga ia siap bersuara. Ia mengajakku pergi ke suatu restoran lama. Tempatnya ramai di lantai satu. Tapi ia memilih lantai dua karena lebih tenang dan nyaman untuk berbincang serius. Kami duduk berhadapan. Ia terlihat gelisah jadi aku menenangkannya sedikit dan mengatakan bahwa kalau dia belum siap bercerita maka taka pa. aku tak memaksanya. Ia bilang butuh waktu sebentar saja untuk menjernihkan pikirannya kurasa.

Ia menyetel musik sendu yang malah menambah suram suasana. Kurasa ada yang sedang tak beres dengannya. Namun, akhirnya ia angkat bicara.

Ia mengatakan bahwa ibunya mengidap kanker darah atau leukimia sejak ia duduk di bangku kelas enam SD. Stadiumnya sudah mencapai stadium akhir. Aku sebenarnya tak bisa bernapas mendengar kabar itu keluar dari mulutnya. Tak kusangka sekali.

Ia menceritakan bahwa ia sekarang merasa sedih akan dirinya sendiri, karena dahulu ia bahkan tidak tulus membantu ibunya yang sakit-sakitan dan melakukan kewajibannya karena tak tega saja. Aku merasa sendu. Tak tahu. Iba sekali rasanya, karena aku biasa sangat manja pada ibuku dan jarang membantunya kecuali jika disuruh saja.

Tak pernah terpikir teman dekatku sendiri sedang berjuang melawan rasa sedih karena menyesali perbuatannya pada ibunya. Aku merasa bangga sebenarnya dia mau berubah dan menyadari semuanya walau sudah lewat beberapa tahun lalu. Tapi ia tetep ada usaha untuk tidak mengulangi lagi dan lebih agamis dari sebelumnya. Sehingga ibunya akan bangga padanya.

Ia bercerita bagaimana yang ia rasakan. Kemudian, ia juga ingin aku membantunya untuk selalu mengingatkan jika waktu sholat telah tiba. Aku senang mendengarnya. Aku terharu dapat melihat perubahan seseorang menjadi lebih baik secara langsung. Menurutku, itu hal yang ajaib dan patut diabadikan di kepalaku. Setidaknya, dia sudah berniat sejak saat itu untuk menjadi lebih baik.

Kami berbincang hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam. Tak terasa sama sekali. Terlalu banyak hal yang baru kutahu dan ia beritahukan padaku. Aku senang ia memercayaiku. Sangat dihargai rasanya. Terhormat.

Kami memutuskan pulang, karena sudah malam sekali dan aku mulai lelah dan butuh istirahat. Ia mengantarku pulang dan tiba di depan rumah kost sekitar jam 10 malam. Setelah berpamitan ia segera hilang di tengah gelap malam.

Itulah kali pertama aku mengenalnya lebih dalam. Ia terbuka padaku. Memercayaiku dan yakin aku pasti akan mengerti dirinya. Ia juga menemani akhir pekanku yang selalu sepi sehingga lebih berwarna. Aku tak pernah pulang malam dengan seorang cowok. Tapi di kotan rantauku, taka da aturan yang mengikatku. Aku bebas hingga kadang aku juga melupakan bahaya yang mengintaiku.

Advertisements

29 Oktober 2017

Ini kali pertama aku pergi dengannya hampir seharian. Aku bahagia sekali, karena saat itulah aku dapat melihat kota rantauku dengan jelas. Melihat orang-orang berseliweran di jalan raya. Bahasa daerah yang tak pernah kudengar sebelumnya. Sampai cara mereka memandang pendatang yang terasa asing di benakku.

Hari itu akhir pekan. Ia mengajakku untuk sekedar makan di sebuah restoran cepat saji. Kukira hanya untuk makan sebentar. Tapi ternyata kami tak sadar waktu. Di restoran capat saji kami hanya berbincang. Dan di sinilah ia mulai mengenal hal buruk yang selalu kututupi jika berkenalan dengan seorang lawan jenis, bahwa ia hanya sedang kumanfaatkan. Dia membaca semua pesan masuk di telepon genggamku satu persatu. Terutama yang berasal dari kaum adam ia baca dengan teliti. Bahkan ia sampai bingung dan tertawa dengan topik yang dibicarakan oleh para pengirim pesan tersebut. Ada yang terlalu aneh, bijak, bahkan sampai aku juga membalas dengan tanggapan renyah agar terlihat sopan saja.

Kemudian aku melihat pesan masuk dari kekasihnya. Karena itu adalah giliranku membongkar privasinya. Sebenarnya itu percuma, karena mereka berbincang menggunakan Bahasa daerah yang aku tidak mengerti. Pantas dia rela saja memberikan telepon genggamnya, karena ia tahu aku tak akan mengerti.

Kali ini ia tak mau membayariku, karena katanya ia tak mau disamakan dengan cowok-cowok yang tadi ada di layar pesan masukku. Dia bilang dia temanku bukan cowok yang sedang mendekatiku. Ya, baiklah. Benar juga. Kalau aku tahu ia sedang berusaha mendekatiku maka tak akan kubongkar rahasiaku. Tapi, sekarang dia sudah tau akal-akalanku selama ini. Tapi, aku merasa lega saat itu. Ternyata ada juga yang masih mau menemaniku ketika tahu bahwa aku selama ini memanfaatkannya. Aku berterimakasih padanya untuk itu.

Ketika itu, aku memintanya untuk memberi tahu kekasihnya bahwa ia sedang pergi denganku. Setidaknya, katakanlah bahwa ia pergi dengan teman perempuan sehingga kekasihnya tidak akan salah paham dan menyadari bahwa tak ada maksud buruk. Akhirnya, dia dengan berat hati mengatakan hal tersebut pada kekasihnya. Namun, reaksi yang diterima malah mengancam minta putus. Haduh, kacau. Setelah itu, aku tidak berniat kembali untuk mengusik dia dan kekasihnya. Kupikir kekasihnya adalah orang yang sedikit egois dan galak. Jadi, aku ingin jauh-jauh saja. Lagipula kami memang tak saling mengenal.

Setelah mengemil es krim dan kentang goreng. Kami pulang sore harinya. Ia megantarku pulang dengan mengancam tanggung jawab atas ucapanku pada kekasihnya itu. Padahal aku hanya memberi tahu saja. Sekedar mengingatkan bahwa cowoknya itu sedikit nakal. Padahal kurasa kekasihnya itu pasti sudah tahu.

Itulah pertama kali ia mengenal bagian diriku yang licik. Tapi, karena hal inilah aku mulai berubah dan tidak seharusnya aku jahat seperti itu pada kaum adam. Namun, mereka terlihat menyenangkan untuk kumanfaatkan dulu. Padahal, mereka tahu juga bahwa aku hanya main-main. Dia hanya merasa kaget serta tak menyangka bahwa wajah polos sepertiku dapat berubah menjadi licik seperti itu. Walaupun, aku tak berniat seperti itu pada awalnya. Ia hanya mengatakan senang melihatku bahagia jika diajak makan olehnya. Aku berterima kasih padanya dalam hati. Terlalu gengsi untuk mengatakannya secaranya langsung. Setidaknya sudah kuungkapkan di tulisan kali ini. Meskipun tidak secara langsung kuharap ucapan ini sampai di benaknya.

29 Oktober 2017

Makan berdua setelah ekskul kembali dilakukan. Dia yang selalu memilih tempat. Alasannya aku tidak pernah berkeliling daerah baruku karena tak ada transportasi. Di pikiranku kala itu, hanya yang penting aku makan dan dibayari. Sudah kubilang memang aku mencari keuntungan darinya. Sudah dibayari ditemani ngobrol juga kan membuat hariku lebih menyenangkan.

Kali ini kami duduk berhadapan dan dia berniat untuk meminjam telepon genggamku. Sekadar penasaran saja sepertinya. Tapi dia tidak mengobrak-abrik privasiku kala itu. Tidak menanyakan siapa yang sedang dekat denganku atau pesan masuk dari siapa yang sedari tadi menganggu keheningan kami.

Namun, pesan dari kekasihnya muncul ketika aku hendak meminjam telepon genggamnya. Aku mulai mengusik dengan menanyakan kekasihnya kembali. Namun, dia kembali membelokkan topik dan mengatakan nanti saja membalas pesan dari kekasihnya itu. Ia bahkan juga mengatakan “lelah LDR”. Alias dia pasti kesepian tak ada kekasihnya itu dan melampiaskannya padaku. Aku kala itu merasa was-was dan takut bahwa dia akan mendekatiku lebih dari sewajarnya yang menyebabkan aku akan disalahkan oleh kekasihnya itu. Itu bukan caraku dan bukan niat awalku berteman dengannya.

Ketika itu aku hanya mengingatkannya sambil bercanda bahwa tidak seharusnya dia berkata seperti itu. Karena terdengar sangat jahat. Tapi tak dihiraukan dan dia kembali mengalihkan ke topik lainnya. Kuikuti saja alur pembicaraannya. Lagipula aku tak punya hak untuk melarangnya. Itu adalah keputusannya dan aku tak mengenalnya dengan baik untuk memberi sekadar saran atau ceramah kecil-kecilan.

Tapi selalu tertanam dalam kepalaku kala itu bahwa dia adalah orang yang tidak patut dipertahankan oleh kekasihnya. Lihat saja kelakuannya. Tidak tahu terima kasih padahal kekasihnya melakukan semua hal yang ada di novel-novel. Aku sempat risih dengannya saat itu. Tapi aku yakin bahwa aku tidak akan menyayangi orang seperti itu. Makanya, aku mau mau saja lain kali kalau diajak pergi olehnya, karena aku tak mungkin memiliki rasa pada orang seperti itu.

Cowok yang pernah mendekatiku saja yang selalu memprioritaskan aku belum ada yang membuatku jatuh hati. Bagaimana yang model seperti ini. Sudah pasti tidak mungkin. Dia itu tidak baik. Dan aku tahu itu.

29 Oktober 2017

Pernah kamu bayangkan seorang teman cowok yang selalu rela dimintai tolong olehmu? Pasti kebayang kan. Menemani di malam hari sekedar untuk berceloteh hal-hal yang ga tau penting atau tidak untuk dibicarakan. Sekedar melawan sepi di kamar kost yang letaknya jauh dari asalmu. Tapi kuyakin saat itu juga dia sedang berjuang melawan sepi karena kekasihnya yang absen dari sampingnya.

Aku tak mengenal dia dengan baik saat itu. Aku juga sempat memanfaatkannya untuk melampiaskan kesedihanku atas hilangnya cowok yang sempat dekat denganku kala itu. Aku jujur melakukan itu padanya. Mungkin, karena dosa ini juga aku menjadi seperti ini sekarang. Tapi ketika itu aku yakin bahwa dia juga melakukan hal yang sama padaku. Makanya, aku merasa tak bersalah.

Kami teman satu ekskul juga. Dia menyukai olahraga yang ternyata kugemari. Kami sering pulang dan berangkat bersama. Pertama kali ia mengajakku pergi adalah melalui kesempatan ini. Ketika itu aku dapat melihat bahwa ia sedikit ragu untuk mengajakku. Namun, ku-iyakan karena kami sekelas dan tak mau dicap sombong. Tapi, aku tidak ingin menjadi bahan pertangkaran antara ia dan kekasihnya jika ketahuan. Namun, pada akhirnya kami makan bersama.

Tak ada yang special. Kami duduk berhadapan, bercerita mengenai kelas baru dan daerah asal kami masing-masing. Sedikit kusinggung tentang kekasihnya namun ia membelokkan cerita. Jadi kuanggap ia tak ingin membicarakan hal mengenai romansa masing-masing. Baiklah, kututup rapat-rapat juga mengenai kisahku saat itu. Kami hanya teman jalan tanpa mengobrak-abrik privasi masing-masing.

Sebenarnya, aku selalu mengatakan padanya saat ini, bahwa aku tidak terlalu mengingat kejadian dulu. Karena aku cuek dan biasanya masa bodoh dengan hal-hal remeh itu. Namun, sekarang banyak bagian ceritaku dan dia yang kuingat. Ntah mengapa. Apa karena aku mulai merasa sakit dan berharap kembali seperti dulu atau mungkin sebenarnya aku saja yang mengelak untuk mengingat hal itu namun sekarang aku mulai menerimanya. Bahwa aku tidak bisa lupa. Bahkan raut wajahnya kala itupun aku masih ingat.

29 Oktober 2017

Aku sering bertanya sama diriku sendiri. Don’t you deserve better? Pertanyaan yang selalu keluar di saat semua rasanya ga sesuai sama ekspektasiku. Dulu sebelum kenal, aku ga ada bayangan bakal bisa terlibat jauh banget sama dia. Malahan sekarang mau maju ataupun mundur salah. Saat itu aku Cuma berteman. Ga ada lebih ataupun kurang. Kami cuma teman sekelas memang. Ga ada yang salah kalo saling sapa, tukar senyum, atau sekedar bercanda.

Setahunku di perantauan membuat banyak kenangan. Tapi masih belum bisa ditentukan. Apa akan menjadi kenangan manis atau pahit nantinya. Coba kamu bayangkan satu tahun itu harusnya aku belajar keras supaya bisa kembali ke tanah asal. Tapi malah hal-hal yang belum siap aku terima datang seperti topan di perjalananku. Memporak-porandakan semua pondasi yang sudah tertanam dalam.

Aku gak pernah berpikir akan terlibat dengan hubungannya yang sedang berjalan. Terlihat dekat sama satu orang cowok saja sudah cukup melelahkan apalagi harus ikut campur dengan hubungannya saat itu. Ga ada pikiran sedikitpun mereka akan berakhir dengan alasan karena ada aku. Membuatku berpikir apa aku sudah terlalu jauh berjalan ke arah yang salah. Aku ga tau apa yang harus kurasakan saat itu. Bingung, lega, aneh, dan jahat. Aku merasa diriku jahat. Jahat memang. Tapi tak pernah bermaksud untuk menjadi jahat.

Dulu aku bisa dekat dengan siapapun tanpa takut ada yang terluka. Aku ga pernah berpikir untuk memikirkan orang lain.  Egois memang, yang penting aku senang. Tapi aku tau untuk tidak melukai mereka juga. Dengan tidak terikat terlalu dalam sampai menyayangi satu sama lain. Cukup untuk menjadi teman dikala sepi saja.

Tak ada terlintas aku akan menyayangi seorang lawan jenis hingga aku harus sakit hati seperti sekarang. Aku bukan tipe yang mudah menyayangi dengan tulus. Tapi jika iya, maka dia akan menjadi titik lemahku di kemudian hari. Salah satu kunci untuk menghancurkan semua pondasiku. Aku bukan tipe perempuan yang kalian sering lihat dikagumi orang banyak. Aku tertutup dan tanpa suara. Oleh karena itu, banyak yang penasaran dan sekadar ingin mengenalku. Aku biasa menganggap semua cowok hanya ingin tahu. Tidak lebih dan sampai menyayangiku. Ekspektasiku pada hal-hal seperti itu cenderung minim dulu.

Tapi apa yang terjadi setelah setahun perantauanku berubah menjadi cerita yang ingin kalian dengar tapi tak ingin kalian rasakan. Aku bahkan hampir tak mengenal diriku sendiri. Meragukan keputusanku sendiri juga jadi hal yang biasa terjadi. Aku tak pernah berbagi mengenai perkara hati dengan khalayak banyak karena aku juga terkadang bingung dengan diriku. Tapi sekarang aku dengan senang hati menulis agar ada yang dapat mendengar keluhanku. Aku mulai tak mengenal aku sendiri. Kenapa aku melakukan hal ini dan mengapa aku tidak melakukan hal itu.

Aku butuh kembali menjadi diriku sendiri atau mungkin inilah diriku yang sebenarnya belum aku kenal?

 

Pengalaman Perawatan Kulit di Erha (Part 1)

Halo haloo semuanyaa 🙂

Kali ini aku mau bagi-bagi cerita tentang pengalaman perawatan kulit di klinik kecantikan yang terkenal banget namanya, yaitu ERHA. Nah pengalaman ini mau aku ceritain untuk menambah wawasan kalian tentang gimana sih kalo perawatan ke erha. Terus dikasih apa aja, hasil yang dirasakan, dan lain lainnya.

Continue reading Pengalaman Perawatan Kulit di Erha (Part 1)

Review Oriflame Cheeky Lips Stain

Anneyeong, anneyeong!
Sebenarnya, saya bukan beauty guru atau semacamnya sih, gurls. Tapi, mumpung baru beli kosmetik jadi pengen kasih review tentang oriflame cheeky lips stan ‘Lovely Pink’ buat anda-anda sekalian (plus mau pamer udah punya lips stain hahahah). So, anda semua bisa memutuskan dengan lebih bijak barang ini recommended or not buat dipakai.

Continue reading Review Oriflame Cheeky Lips Stain

[BREAKING NEWS] BTS New MV Teaser!

BANGTAN BANGTAN BANGTAN BOYS! *confetti confetti*

Oke, fine. Ini udah H-16 USM STAN dan H-36 SBMPTN, gurls! Kenapa mereka ngeluarin itu mv teaser sekarang coba. kenapa gak tunggu SBMPTN gueh selesai duluuu. AAAAAAA kerjaannya bukan belajar lagi. Tapi tengok-tengok youtube gara-gara ga tahan pengen nonton mulu plis ya.plis banget ini mah. Hueeeee TT.TT

Bagi yang belom liat teaser mangga diliat dulu aa dan teteh di seberang sana. Hati-hati nanti malah kena candu asmara (?). mihihi Continue reading [BREAKING NEWS] BTS New MV Teaser!