Monthly Archives: December 2017

31 Oktober 2017

Mengelilingi kota rantau kami sepertinya menjadi aktivitas yang digemari. Akupun merasa senang ditemani olehnya, karena aku merasa tak ada yang harus kututup-tutupi. Kami pergi ke sebuah kafe sambil berniat untuk mengulang kembali materi kuliah yang akan diujikan sebentar lagi. Walaupun sebenarnya hasilnya nihil. Aku tak bisa belajar bersama karena terlalu ramai dan berisik bagiku. Jadi kami hanya mengobrol dan bercanda saja sampai makanan ringan kami habis.

Kali ini kami akan makan malam. Karena bosan dengan tempat yang itu-itu saja kami berpindah dari tempat sebelumnya juga ia mengatakan ingin menceritakan sesuatu padaku. Jadi aku hanya menunggu waktu saja hingga ia siap bersuara. Ia mengajakku pergi ke suatu restoran lama. Tempatnya ramai di lantai satu. Tapi ia memilih lantai dua karena lebih tenang dan nyaman untuk berbincang serius. Kami duduk berhadapan. Ia terlihat gelisah jadi aku menenangkannya sedikit dan mengatakan bahwa kalau dia belum siap bercerita maka taka pa. aku tak memaksanya. Ia bilang butuh waktu sebentar saja untuk menjernihkan pikirannya kurasa.

Ia menyetel musik sendu yang malah menambah suram suasana. Kurasa ada yang sedang tak beres dengannya. Namun, akhirnya ia angkat bicara.

Ia mengatakan bahwa ibunya mengidap kanker darah atau leukimia sejak ia duduk di bangku kelas enam SD. Stadiumnya sudah mencapai stadium akhir. Aku sebenarnya tak bisa bernapas mendengar kabar itu keluar dari mulutnya. Tak kusangka sekali.

Ia menceritakan bahwa ia sekarang merasa sedih akan dirinya sendiri, karena dahulu ia bahkan tidak tulus membantu ibunya yang sakit-sakitan dan melakukan kewajibannya karena tak tega saja. Aku merasa sendu. Tak tahu. Iba sekali rasanya, karena aku biasa sangat manja pada ibuku dan jarang membantunya kecuali jika disuruh saja.

Tak pernah terpikir teman dekatku sendiri sedang berjuang melawan rasa sedih karena menyesali perbuatannya pada ibunya. Aku merasa bangga sebenarnya dia mau berubah dan menyadari semuanya walau sudah lewat beberapa tahun lalu. Tapi ia tetep ada usaha untuk tidak mengulangi lagi dan lebih agamis dari sebelumnya. Sehingga ibunya akan bangga padanya.

Ia bercerita bagaimana yang ia rasakan. Kemudian, ia juga ingin aku membantunya untuk selalu mengingatkan jika waktu sholat telah tiba. Aku senang mendengarnya. Aku terharu dapat melihat perubahan seseorang menjadi lebih baik secara langsung. Menurutku, itu hal yang ajaib dan patut diabadikan di kepalaku. Setidaknya, dia sudah berniat sejak saat itu untuk menjadi lebih baik.

Kami berbincang hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam. Tak terasa sama sekali. Terlalu banyak hal yang baru kutahu dan ia beritahukan padaku. Aku senang ia memercayaiku. Sangat dihargai rasanya. Terhormat.

Kami memutuskan pulang, karena sudah malam sekali dan aku mulai lelah dan butuh istirahat. Ia mengantarku pulang dan tiba di depan rumah kost sekitar jam 10 malam. Setelah berpamitan ia segera hilang di tengah gelap malam.

Itulah kali pertama aku mengenalnya lebih dalam. Ia terbuka padaku. Memercayaiku dan yakin aku pasti akan mengerti dirinya. Ia juga menemani akhir pekanku yang selalu sepi sehingga lebih berwarna. Aku tak pernah pulang malam dengan seorang cowok. Tapi di kotan rantauku, taka da aturan yang mengikatku. Aku bebas hingga kadang aku juga melupakan bahaya yang mengintaiku.

Advertisements