29 Oktober 2017

Ini kali pertama aku pergi dengannya hampir seharian. Aku bahagia sekali, karena saat itulah aku dapat melihat kota rantauku dengan jelas. Melihat orang-orang berseliweran di jalan raya. Bahasa daerah yang tak pernah kudengar sebelumnya. Sampai cara mereka memandang pendatang yang terasa asing di benakku.

Hari itu akhir pekan. Ia mengajakku untuk sekedar makan di sebuah restoran cepat saji. Kukira hanya untuk makan sebentar. Tapi ternyata kami tak sadar waktu. Di restoran capat saji kami hanya berbincang. Dan di sinilah ia mulai mengenal hal buruk yang selalu kututupi jika berkenalan dengan seorang lawan jenis, bahwa ia hanya sedang kumanfaatkan. Dia membaca semua pesan masuk di telepon genggamku satu persatu. Terutama yang berasal dari kaum adam ia baca dengan teliti. Bahkan ia sampai bingung dan tertawa dengan topik yang dibicarakan oleh para pengirim pesan tersebut. Ada yang terlalu aneh, bijak, bahkan sampai aku juga membalas dengan tanggapan renyah agar terlihat sopan saja.

Kemudian aku melihat pesan masuk dari kekasihnya. Karena itu adalah giliranku membongkar privasinya. Sebenarnya itu percuma, karena mereka berbincang menggunakan Bahasa daerah yang aku tidak mengerti. Pantas dia rela saja memberikan telepon genggamnya, karena ia tahu aku tak akan mengerti.

Kali ini ia tak mau membayariku, karena katanya ia tak mau disamakan dengan cowok-cowok yang tadi ada di layar pesan masukku. Dia bilang dia temanku bukan cowok yang sedang mendekatiku. Ya, baiklah. Benar juga. Kalau aku tahu ia sedang berusaha mendekatiku maka tak akan kubongkar rahasiaku. Tapi, sekarang dia sudah tau akal-akalanku selama ini. Tapi, aku merasa lega saat itu. Ternyata ada juga yang masih mau menemaniku ketika tahu bahwa aku selama ini memanfaatkannya. Aku berterimakasih padanya untuk itu.

Ketika itu, aku memintanya untuk memberi tahu kekasihnya bahwa ia sedang pergi denganku. Setidaknya, katakanlah bahwa ia pergi dengan teman perempuan sehingga kekasihnya tidak akan salah paham dan menyadari bahwa tak ada maksud buruk. Akhirnya, dia dengan berat hati mengatakan hal tersebut pada kekasihnya. Namun, reaksi yang diterima malah mengancam minta putus. Haduh, kacau. Setelah itu, aku tidak berniat kembali untuk mengusik dia dan kekasihnya. Kupikir kekasihnya adalah orang yang sedikit egois dan galak. Jadi, aku ingin jauh-jauh saja. Lagipula kami memang tak saling mengenal.

Setelah mengemil es krim dan kentang goreng. Kami pulang sore harinya. Ia megantarku pulang dengan mengancam tanggung jawab atas ucapanku pada kekasihnya itu. Padahal aku hanya memberi tahu saja. Sekedar mengingatkan bahwa cowoknya itu sedikit nakal. Padahal kurasa kekasihnya itu pasti sudah tahu.

Itulah pertama kali ia mengenal bagian diriku yang licik. Tapi, karena hal inilah aku mulai berubah dan tidak seharusnya aku jahat seperti itu pada kaum adam. Namun, mereka terlihat menyenangkan untuk kumanfaatkan dulu. Padahal, mereka tahu juga bahwa aku hanya main-main. Dia hanya merasa kaget serta tak menyangka bahwa wajah polos sepertiku dapat berubah menjadi licik seperti itu. Walaupun, aku tak berniat seperti itu pada awalnya. Ia hanya mengatakan senang melihatku bahagia jika diajak makan olehnya. Aku berterima kasih padanya dalam hati. Terlalu gengsi untuk mengatakannya secaranya langsung. Setidaknya sudah kuungkapkan di tulisan kali ini. Meskipun tidak secara langsung kuharap ucapan ini sampai di benaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s