29 Oktober 2017

Pernah kamu bayangkan seorang teman cowok yang selalu rela dimintai tolong olehmu? Pasti kebayang kan. Menemani di malam hari sekedar untuk berceloteh hal-hal yang ga tau penting atau tidak untuk dibicarakan. Sekedar melawan sepi di kamar kost yang letaknya jauh dari asalmu. Tapi kuyakin saat itu juga dia sedang berjuang melawan sepi karena kekasihnya yang absen dari sampingnya.

Aku tak mengenal dia dengan baik saat itu. Aku juga sempat memanfaatkannya untuk melampiaskan kesedihanku atas hilangnya cowok yang sempat dekat denganku kala itu. Aku jujur melakukan itu padanya. Mungkin, karena dosa ini juga aku menjadi seperti ini sekarang. Tapi ketika itu aku yakin bahwa dia juga melakukan hal yang sama padaku. Makanya, aku merasa tak bersalah.

Kami teman satu ekskul juga. Dia menyukai olahraga yang ternyata kugemari. Kami sering pulang dan berangkat bersama. Pertama kali ia mengajakku pergi adalah melalui kesempatan ini. Ketika itu aku dapat melihat bahwa ia sedikit ragu untuk mengajakku. Namun, ku-iyakan karena kami sekelas dan tak mau dicap sombong. Tapi, aku tidak ingin menjadi bahan pertangkaran antara ia dan kekasihnya jika ketahuan. Namun, pada akhirnya kami makan bersama.

Tak ada yang special. Kami duduk berhadapan, bercerita mengenai kelas baru dan daerah asal kami masing-masing. Sedikit kusinggung tentang kekasihnya namun ia membelokkan cerita. Jadi kuanggap ia tak ingin membicarakan hal mengenai romansa masing-masing. Baiklah, kututup rapat-rapat juga mengenai kisahku saat itu. Kami hanya teman jalan tanpa mengobrak-abrik privasi masing-masing.

Sebenarnya, aku selalu mengatakan padanya saat ini, bahwa aku tidak terlalu mengingat kejadian dulu. Karena aku cuek dan biasanya masa bodoh dengan hal-hal remeh itu. Namun, sekarang banyak bagian ceritaku dan dia yang kuingat. Ntah mengapa. Apa karena aku mulai merasa sakit dan berharap kembali seperti dulu atau mungkin sebenarnya aku saja yang mengelak untuk mengingat hal itu namun sekarang aku mulai menerimanya. Bahwa aku tidak bisa lupa. Bahkan raut wajahnya kala itupun aku masih ingat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s